اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
Sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Tafsir ringkas
Nabi Nuh adalah orang yang berbuat baik karena sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman, jujur, dan ikhlas.
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
Sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Nabi Nuh adalah orang yang berbuat baik karena sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman, jujur, dan ikhlas.
ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ
Kemudian Kami tenggelamkan yang lain.
Kemudian Kami tenggelamkan yang lain akibat kekafiran mereka.
وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ ۘ
Dan sungguh, Ibrahim termasuk golongannya (Nuh).
Di antara para rasul yang Kami utus kepada umat terdahulu adalah Nabi Ibrahim. Dan sungguh, Nabi Ibrahim adalah termasuk golongannya, yaitu penerus ajaran dan agama Nabi Nuh.
اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ
(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,
Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Ingatlah ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci bersih dari keyakinan batil dan akhlak tercela sehingga dalam hatinya hanya ada ketaatan dan kecintaan kepada Allah.
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَاذَا تَعْبُدُوْنَ ۚ
(ingatlah) ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Apakah yang kamu sembah itu?
Ingatlah ketika dia dengan maksud mengingatkan berkata kepada ayah dan kaumnya, “Apakah yang kamu sembah itu?
اَىِٕفْكًا اٰلِهَةً دُوْنَ اللّٰهِ تُرِيْدُوْنَۗ
Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah itu?
Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah itu sehingga kamu menganggap benar apa yang kamu lakukan?
فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Maka bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan seluruh alam?”
Hanya Allah yang patut disembah. Maka, bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan seluruh alam jika kalian mengingkari-Nya, bahkan menyembah selain Dia?
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِى النُّجُوْمِۙ
Lalu dia memandang sekilas ke bintang-bintang,
Demikianlah Nabi Ibrahim mengingatkan ayah dan kaumnya agar meninggalkan kemusyrikan, lalu dia memandang sekilas ke bintang-bintang untuk berpikir,
فَقَالَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ
kemudian dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”
kemudian dia menemukan alasan untuk tidak pergi bersama kaumnya dalam acara perayaan, lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”
فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِيْنَ
Lalu mereka berpaling dari dia dan pergi meninggalkannya.
Mendengar jawaban Nabi Ibrahim, lalu mereka berpaling dari dia dan pergi meninggalkannya menuju tempat perayaan sesat itu berlangsung.
فَرَاغَ اِلٰٓى اٰلِهَتِهِمْ فَقَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَۚ
Kemudian dia (Ibrahim) pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu dia berkata, “Mengapa kamu tidak makan?
Tidak lama kemudian dia, yakni Nabi Ibrahim, pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu dia berkata kepadanya dengan nada mengejek “Mengapa kamu tidak makan sajian yang mereka sediakan untukmu?
مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُوْنَ
Mengapa kamu tidak menjawab?”
Mengapa kamu tidak menjawab sepatah kata pun?”
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا ۢبِالْيَمِيْنِ
Lalu dihadapinya (berhala-berhala) itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya.
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya hingga hancur.
فَاَقْبَلُوْٓا اِلَيْهِ يَزِفُّوْنَ
Kemudian mereka (kaumnya) datang bergegas kepadanya.
Hancurnya berhala-berhala itu diketahui oleh kaum Nabi Ibrahim, kemudian mereka datang bergegas kepadanya dengan penuh amarah.
قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?
Nabi Ibrahim tidak gentar menghadapi amarah kaumnya. Dia dengan percaya diri berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Bagaimana mungkin kalian menyembah buah karya kalian sendiri?
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
Mengapa kamu tidak menyembah Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?”
قَالُوا ابْنُوْا لَهٗ بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ
Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuknya (membakar Ibrahim); lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”
Kaum yang kafir itu kalah dalam beradu argumen dengan Nabi Ibrahim, kemudian mereka berkata, “Buatlah bangunan perapian untuk kita membakar-nya; lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”
فَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ
Maka mereka bermaksud memperdayainya dengan (membakar)nya, (namun Allah menyelamatkannya), lalu Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.
Maka mereka bermaksud memperdayainya dengan cara membakar-nya, namun Allah menyelamatkan dia dari kobaran api, lalu Kami jadikan mereka orang-orang yang hina dan kalah.
وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
Nabi Ibrahim selamat dari upaya pembunuhan oleh kaumnya, dan dia berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi berhijrah menuju tempat yang memungkinkan aku mendekatkan diri kepada Tuhanku dan mengajak umatku menuju tauhid. Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku dan orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran. Ayat ini menganjurkan berhijrah dari suatu tempat ketika dakwah dan pengamalan agama mendapat tekanan dan penindasan.
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”
100. Setelah menjelaskan dialog Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang ingkar, pada ayat berikut Allah beralih mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dengan putranya, Isma’il, tentang perintah Allah. Dia berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk golongan orang yang saleh dan taat menjalankan perintah-Mu dan membela agama-Mu.”