Jika bagian akhir Surah an-Nàzi‘àt menjelaskan tugas Nabi sebagai pemberi peringatan tentang hari kiamat, maka pada permulaan Surah ‘Abasa Allah menyebutkan siapa yang akan mendapatkan manfaat dari peringatan tersebut. Disebutkan bahwa seorang pria buta bernama ‘Abdullàh bin Ummi Maktùm, anak paman Khadìjah, menghadap Nabi untuk meminta petunjuk. Ketika itu Nabi tengah berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi kurang berkenan dengan kedatangannya. Muka Nabi menjadi masam. Atas perilaku tersebut Allah menegurnya dengan halus. Teguran ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan Nabi melainkan kalàmullah. Dengan teguran itu Allah menghendaki agar Nabi Muhammad melakukan hal yang lebih utama, yaitu memperhatikan orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan berpegang teguh dengan Islam. Dia, Nabi Muhammad, berwajah masam karena kedatangan Ibnu Ummi Maktùm, dan berpaling darinya untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemuka Quraisy.
2
اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).
Tafsir ringkas
Nabi kurang berkenan sehingga bermuka masam karena seorang buta telah datang kepadanya, yaitu ‘Abdullàh bin Ummi Maktùm. Allah menegur Nabi karena lebih mementingkan bertemu dengan pemuka Quraisy untuk mengajak mereka masuk Islam. Dalam pandangan Allah, semestinya Nabi lebih mementingkan siapa pun yang betul-betul ingin mengamalkan ajaran Islam, tidak peduli ia dari kalangan fakir miskin bahkan cacat. ‘Abdullàh terus memanggil-manggil Nabi, sedang dia karena kebutaannya tidak tahu bahwa beliau sedang bersama para pemuka Quraisy (Lihat: Surah al-An‘àm/6: 52; al-Kahf/18: 28).
3
وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ
Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),
Tafsir ringkas
Wahai Nabi Muhammad, Kami menegur sikapmu yang demikian karena tahukah engkau barangkali dia datang menghadapmu untuk minta pengajaran darimu sebab dia ingin menyucikan dirinya dari dosa dan kesalahan masa lalunya?
4
اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?
Tafsir ringkas
Atau tahukah engkau bila dia datang karena dia ingin mendapatkan pengajaran Al-Qur’an dan ajaran Islam darimu, yang memberi manfaat kepadanya sehingga dia lebih tekun beribadah, beramal saleh, dan menjadi pengikut setiamu?
5
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy),
Tafsir ringkas
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup dengan apa yang dia punya, seperti kedudukan, status sosial, dan kekayaan; sehingga dia enggan beriman kepada Allah dan mengikuti ajaranmu,
6
فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ
maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya,
Tafsir ringkas
maka engkau justru memberi perhatian kepadanya secara penuh agar jika dia masuk Islam dan menjadi pelopor bagi pengikutnya. Dalam berdakwah kepada pemuka Quraiys, Nabi sebetulnya mempunyai niat yang mulia, tetapi Allah menegur perlakuan Nabi kepada ‘Abdullàh lebih karena Dia menginginkan Nabi melakukan sesuatu yang lebih baik.
7
وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ
padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).
Tafsir ringkas
Wahai Nabi, mengapa engkau lebih mengutamakan pelayanan terhadap pemuka Quraisy itu, padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak menyucikan diri dengan beriman kepada Allah? Tugasmu hanyalah menyampaikan wahyu, dan setelah itu tidak ada dosa bagimu jika dia tetap berpaling dan enggan mengikuti petunjukmu. Lalu, mengapa engkau menomorduakan permintaan orang buta lagi fakir yang ingin belajar Islam darimu?
8
وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
Tafsir ringkas
Dan adapun orang, yaitu ‘Abdullàh bin Ummi Maktùm, yang datang kepadamu dengan bersegera dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengajaran Islam darimu,
9
وَهُوَ يَخْشٰىۙ
sedang dia takut (kepada Allah),
Tafsir ringkas
sedang dia takut akan siksa Allah jika tidak mematuhi-Nya,
10
فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ
engkau (Muhammad) malah mengabaikannya.
Tafsir ringkas
engkau malah mengabaikannya, berpaling darinya, tidak menghiraukannya, dan bermuka masam kepadanya.
11
كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ
Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan,
Tafsir ringkas
Menjelaskan tujuan utama dari teguran-Nya, Allah berfirman, “Sekali-kali jangan berbuat demikian! Sungguh, ajaran-ajaran Allah itu suatu peringatan bagi semua orang agar mereka kembali ke fitrah, yaitu mentauhidkan-Nya dan mengimani-Nya.”
12
فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ
maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikannya,
Tafsir ringkas
Perigatan-peringatan Allah sudah sangat jelas, maka barang siapa menghendaki untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh, tentulah dia akan memperhatikannya, menghayatinya, lalu mengamalkannya. Tidak ada yang menghalangi seseorang memperoleh peringatan itu selain hati yang penuh kesombongan dan keingkaran.
13
فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ
di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah),
Tafsir ringkas
Peringatan-peringatan dalam ayat Al-Qur’an itu terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan karena berada di sisi Allah dan memuat kalam serta dan pesan-Nya yang sangat berharga.
14
مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ
yang ditinggikan (dan) disucikan,
Tafsir ringkas
Itulah lembaran-lembaran mulia yang ditinggikan derajatnya dan disucikan; tidak ada yang bisa mengotori bahkan menjamahnya. Lembaran-lembaran itu dijauhkan dari segala kekurangan dan tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya.
15
بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ
di tangan para utusan (malaikat),
Tafsir ringkas
Lembaran-lembaran itu berada di tangan para utusan, yaitu para malaikat, pesuruh Allah yang bertugas sebagai penyampai pesan-pesan-Nya.
16
كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ
yang mulia lagi berbakti.
Tafsir ringkas
Para malaikat penulis itu adalah makhluk Allah yang mulia lagi berbakti. Mereka tidak pernah durhaka kepada-Nya dan tidak pula melanggar titah-Nya.
17
قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ
Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!
Tafsir ringkas
Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab yang penuh peringatan bagi manusia agar mereka mengikuti jalan Allah, tetapi celakalah manusia, alangkah jauh mereka dari rahmat Allah, alangkah kufurnya dia kepada peringatan Tuhan!
18
مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ
Dari apakah Dia (Allah) menciptakannya?
Tafsir ringkas
Mengapa mereka ingkar? Tidakkah mereka sadar dari apakah Dia menciptakannya?
19
مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ
Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.
Tafsir ringkas
Manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah. Allah menciptakannya dari sesuatu yang hina, yaitu setetes mani. Dia menciptakannya melalui berbagai tahapan, dari tahap alaqah yang menempel di dinding rahim, lalu berubah menjadi mudgah, kemudian tahap pembentukan tulang, kemudian tahap dibungkusnya tulang itu dengan daging, lalu Allah menentukannya dan mewujudkannya dalam bentuk yang sempurna, dilengkapi dengan panca indera, akal, dan sebagainya.
20
ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ
Kemudian jalannya Dia mudahkan,
Tafsir ringkas
Setelah mewujudkan manusia dalam bentuk yang sempurna, dengan kasih sayang-Nya kemudian jalannya Dia mudahkan dengan cara mengeluarkannya dari perut ibunya. Dia juga memberinya kemudahan untuk membedakan kebaikan dan keburukan agar dia memilih jalan hidupnya sendiri.